Sebagai bangsa yang besar tentunya Indonesia memiliki sejarah yang panjang dalam pembentukannya. Termasuk peran para pahlawan yang mengorbankan jasa, tenaga hingga nyawa untuk berdiri kokohnya negara kesatuan Indonesia. Bisa dibilang, di setiap penjuru negeri tersebar berbagai pahlawan yang menunjukan dedikasinya terhadap negara.

Dari sekian banyak pahlawan tersebut akan muncul beberapa pahlawan yang tergolong ikonik dan terus dikenang oleh banyak orang hingga sekarang ini. Salah satunya adalah Bung Tomo yang pada tahun 2007 baru saja mendapatkan gelar sebagai pahlawan nasional. Tentunya nama Bung Tomo sudah tidak asing lagi di telinga banyak orang Indonesia.

Apalagi kalau mengingat sepak terjangnya dalam mempertahankan kemerdekaan Indonesia. Meski begitu, ternyata lebih banyak orang yang mengenal Bung Tomo hanya sebatas namanya saja. Namun sejarah panjang yang membuat Bung Tomo kemudian dibubuhi gelar sebagai pahlawan nasional ternyata masih banyak yang belum tahu.

Fakta tersebut tentunya sangat disayangkan sekali. Mengingat besarnya jasa yang diberikan oleh Bung Tomo kepada negara Indonesia. Bagi siapapun yang mengakui belum kenal sejarah dari Bung Tomo maka tidak perlu gusar lagi. Karena mengenal sejarah dari Bung Tomo bisa dimulai dari sekarang ini.

Biografi Bung Tomo

Mengenal sejarah panjang dari Bung Tomo tentunya harus dimulai dari titik awal terlebih dulu. Titik awal yang bisa dijadikan pijakan oleh kamu adalah biografi yang dimiliki oleh Bung Tomo ini. Semuanya bermula pada tanggal 3 Oktober yang merupakan hari lahir dari Bung Tomo di Surabaya.

Nyatanya beliau dilahirkan dari bukan keluarga bangsawan tapi tergolong sebagai keluarga menengah biasa. Dibuktikan dengan ayah beliau yang bernama Kartawan Tjiptowidjojo adalah seorang petugas pegawai pemerintah biasa dan merangkap sebagai staff perusahan ekspor impor Belanda.

Sedangkan ibunya sendiri adalah seorang wanita yang pernah merangkap sebagai polisi dan menjadi distributor lokal dari perusahaan jahit di Surabaya. Namun didikan kuat dari kedua orang tuanya tersebutlah yang kemudian membentuk Sutomo menjadi pribadi yang memiliki keinginan kuat dan juga mental yang tangguh.

Selain itu, dari keluarga tersebutlah yang memumpuk Sutomo untuk menghargai pendidikan sekaligus kebebasan. Dua hal penting yang kemudian menjadi pondasi kuat bagi Sutomo di masa depan.

Meski begitu, ternyata Sutomo melewati jalan yang terjal untuk bisa mengakses pendidikan yang diinginkannya. Dibuktikan dengan beliau yang mesti meninggalkan pendidikannya di MULO pada usia 12 tahun karena krisis yang melanda dunia. Tidak berhenti sampai di situ saja karena Sutomo melanjutkan pendidikannya di institusi HBS tapi tidak pernah bisa diselesaikan karena berupa halangan.

Hingga kemudian Sutomo berhasil sampai di titik bergabung dengan KBI untuk semakin mempertebal rasa nasionalis yang dimilikinya. Ketika sudah selesai dengan titel pendidikannya barulah kemudian Sutomo mulai menunjukan taringnya untuk membela Indonesia. Prosesnya sendiri terbagi dalam beberapa momen penting seperti berikut ini.

1. Momen Menjadi Jurnalis Pejuang

Nama Bung Tomo memang mustahil dilepaskan dari statusnya sebagai seorang jurnalis. Bahkan titi mangsa yang kemudian menjadikannya sebagai pahlawan nasional seperti yang dikenal sekarang ini semuanya diawali dengan statusnya sebagai seorang jurnalis. Ia dikenal sebagai jurnalis yang kritis dan juga seringkali membakar semangat para rakyat lewat narasi-narasinya tentang kemerdekaan Indonesia.

Titik loncar dari jurnalis tersebutlah yang membawa Sutomo kemudian pada banyak tempat baru. Termasuk tempat seperti politik dan sosial yang menyerete Sutomo untuk tergabung dalam anggota Gerakan Rakyat Baru yang masih bagian dari tentara Jepang pada tahun 1944. Sayangnya pada tahun tersebut, sepak terjang dari Sutomo tidak terlalu terlihat ataupun berdampak pada organisasi.

Also Read :  Macam-Macam Rumah Adat Di Sumatera

Meski begitu, hal tersebut sama sekali tidak menyurutkan langkah dari Sutomo untuk terus memberikan kontribusinya kepada Indonesia. Terbukti ketika pada Oktober hingga November 1995, Indonesia khususnya Surabaya mendapatkan serangan dari Pihak Penjajah yang ingin menjajah kembali negara Indonesia.

Terlihat dari pasukan Inggris yang mendarat di Surabaya dan melucuti senjata setiap tentara Indonesia. Hal tersebut tentunya membuat para pejuang tidak ingin tinggal diam begitu saja. Mereka kemudian menyusun pasukan sekaligus rencana untuk bisa mempertahankan kemerdekaan Indonesia ini. Dalam inti pasukan tersebut kemudian mencuatlah nama Sutomo dalam perjuangan.

Perjuangan yang dilakukan oleh Bung Tomo terbilang cukup unik tapi tetap tidak kalah menggugahnya. Perjuangan tersebut adalah dengan melalui seruan-seruan Bung Tomo lewat radio yang membakar semangat para pemuda Indonesia untuk mau mempertahankan kemerdekaan Indonesia. Seruan yang dilakukan oleh Bung Tomo juga sangat khas dan bahkan banyak yang menyandingkannya dengan orasi dari Soekarno. Hal tersebut tidak lepas karena seruannya yang memang terkenal garang dan membakar dalam waktu bersamaan.

2. Pasca Kemerdekaan

Nyatanya nama dari Bung Tomo tetap muncul ke permukaan setelah momen kemerdekaan. Terutama pada tahun 1950-an yang menjadi tonggak awal dari Bung Tomo mulai menjauhkan cakarnya di dunia perpolitikan Indonesia. Hal tersebut tidak bisa dilepaskan dari perselisihannya dengan Soekarno.

Ternyata banyak sekali kebijakan Soekarno yang ditentang oleh Bung Tomo. Termasuk di antaranya yang paling terkenal adalah Bung Tomo sangat menentang pilihan Bung Karno yang berpoligami. Berbagai perselisihan tersebutlah yang kemudian membuat Bung Tomo mendukung Soeharto memimpin Indonesia dan memilih Soekarno untuk segera lengser dari pemerintahan. Benar saja, begitu Soeharto menjadi presiden maka Bung Tomo memberikan dukungannya.

Sayangnya, dukungan yang diberikan oleh Bung Tomo juga tidak bertahan terlalu lama. Apalagi setelah berbagai kebijakan dari Soeharto yang bersebrangan dengan pemahamannya. Akibat dari perselisihan tersebut membuat Bung Tomo lantas ditangkap oleh bawahan Soeharto karena mengkritik pemerintah terlalu keras.

Jelas saja, hal itu membuat Bung Tomo lantas dimasukan ke dalam penjara. Sepertinya masa penjara satu tahun membuat banyak hal dari Bung Tomo mulai berubah. Terlihat dari ketertarikannya pada politik yang turun drastis dan keenggannannya untuk berteriak kencang lagi masalah politik. Hingga akhirnya pada 7 Oktober 1981, Bung Tomo menghembuskan napas terakhirnya di Padang Arafah ketika sedang menunaikan Ibadah Haji.

Berkat berbagai jasa besar kepahlawanannya tersebutlah, pada 9 November 2007 Bung Tomo mendapatkan gelar sebagai Pahlawan Nasional. Gelar tersebut didapatkan setelah dua pihak yaitu GP Ansor dan Fraksi Partai Golkar mendesak pemerintah. Desakan tersebutlah yang kemudian membuat pihak pemerintah lantas memberikan gelar pahlawan nasional pada Bung Tomo tepat pada hari Pahlawan yang diperingati tiap tanggal 10 November tersebut.

Isi Pidato Bung Tomo

Semua orang sepakat bahwa yang paling membuat Bung Tomo menjadi terkenal karena pidatonya. Pidato yang dihadirkan oleh Bung Tomo terbilang bukanlah pidato biasa-biasa saja. Soalnya pidato yang dihadirkan diakui oleh banyak pihak sangat membakar semangat siapapun yang mendengarkannya.

Apalagi pidato tersebut tepat dilontarkan ketika Surabaya sedang terdesak oleh serangan musuh yang ingin merebut kembali kemerdekaan Indonesia. Dengan segala kekurangan senjata, ternyata pidato yang diberikan oleh Bung Tomo membuat banyak pemuda dari daerah setempat langsung bahu-membahu untuk menghalang para penjajah menguasai Surabaya.

Also Read :  Macam-Macam Rumah Adat Di Sumatera

Pertempuran tersebut memang gagal dimenangkan tapi tetap berhasil memukul mundur pihak musuh. Semuanya tidak bisa dilepaskan dari campur tangan pidato Bung Tomo yang sangat membakar. Dengan melegendanya pidato Bung Tomo pastinya membuat banyak orang yang kemudian penasaran tentang bagaimana isi lengkap dari pidato tersebut. Bagi kamu yang penasaran, ini adalah pidato lengkap dari Bung Tomo:

“Bismillahirrahmanirrahim.
Merdeka!
 
Saudara-saudara rakyat jelata di seluruh Indonesia terutama saudara-saudara penduduk kota Surabaya. Kita semuanya telah mengetahui. Bahwa hari ini tentara Inggris telah menyebarkan pamflet-pamflet yang memberikan suatu ancaman kepada kita semua. Kita diwajibkan untuk dalam waktu yang mereka tentukan,
menyerahkan senjata-senjata yang telah kita rebut dari tangannya tentara Jepang.Mereka telah minta supaya kita datang pada mereka itu dengan mengangkat tangan.Mereka telah minta supaya kita semua datang pada mereka itu dengan membawa bendera putih tanda bahwa kita menyerah kepada mereka


Saudara-saudara.Di dalam pertempuran-pertempuran yang lampau kita sekalian telah menunjukkan bahwa rakyat Indonesia di Surabaya.Pemuda-pemuda yang berasal dari Maluku,Pemuda-pemuda yang berawal dari Sulawesi,Pemuda-pemuda yang berasal dari Pulau Bali,Pemuda-pemuda yang berasal dari Kalimantan,Pemuda-pemuda dari seluruh Sumatera,Pemuda Aceh, pemuda Tapanuli, dan seluruh pemuda Indonesia yang ada di Surabaya ini. Di dalam pasukan-pasukan mereka masing-masing.Dengan pasukan-pasukan rakyat yang dibentuk di kampung-kampung. Telah menunjukkan satu pertahanan yang tidak bisa dijebol. Telah menunjukkan satu kekuatan sehingga mereka itu terjepit di mana-mana.

 
Hai tentara Inggris!
Kau menghendaki bahwa kita ini akan membawa bendera putih untuk takluk kepadamu. Kau menyuruh kita mengangkat tangan datang kepadamu. Kau menyuruh kita membawa senjata-senjata yang telah kita rampas dari tentara Jepang untuk diserahkan kepadamu Tuntutan itu walaupun kita tahu bahwa kau sekali lagi akan mengancam kita untuk menggempur kita dengan kekuatan yang ada tetapi inilah jawaban kita. Selama banteng-banteng Indonesia masih mempunyai darah merah Yang dapat membikin secarik kain putih merah dan putih Maka selama itu tidak akan kita akan mau menyerah kepada siapapun juga Saudara-saudara rakyat Surabaya siaplah keadaan genting! Tetapi saya peringatkan sekali lagi. Jangan mulai menembak, Baru kalau kita ditembak,
Maka kita akan ganti menyerang mereka itu. Kita tunjukkan bahwa kita ini adalah benar-benar orang yang ingin merdeka. Dan untuk kita saudara-saudara. Lebih baik kita hancur lebur daripada tidak merdeka. Semboyan kita tetap: merdeka atau mati!
 
Dan kita yakin saudara-saudara. Pada akhirnya pastilah kemenangan akan jatuh ke tangan kita, Sebab Allah selalu berada di pihak yang benar. Percayalah saudara-saudara. Tuhan akan melindungi kita sekalian.
 
Allahu Akbar! Allahu Akbar! Allahu Akbar!
Merdeka!”

Isi pidato tersebutlah yang kumandangkan dengan penuh semangat pada pertempuran di Surabaya. Semangat dan aura kuat yang dibawa oleh Bung Tomo ketika membawakan pidato tersebut membuat banyak sekali orang-orang yang terkagum karenanya. Bahkan kemudian banyak yang beranggapan bahwa aura kuat Bung Tomo ketika membacakan pidato hanya bisa dikalahkan oleh Presiden Soekarno.

Sejarah Bung Tomo

Membaca isi pidato dari Bung Tomo memang membuat siapapun pastinya akan terbakar nasionalismenya. Tidak heran apabila kemudian namanya tetap mengharum hingga sekarang ini. Nama harum yang kemudian membuat banyak orang tentang penasaran sejarah di balik hal yang membuat Bung Tomo menjadi pahlawan nasional.

Also Read :  Macam-Macam Rumah Adat Di Sumatera

Pemicu sejarah besar itu sendiri dimulai ketika pertempuran di Surabaya pada 10 November 1945 pecah. Bung Tomo yang sangat geram melihat pribumi terus dijajah dan terus berjatuhan nyawanya kemudian memutuskan untuk ikut campur dalam pertempuran.

Beliau dengan aktif membakar semangat setiap warga di Surabaya untuk jangan gentar menghadapi penjajah yang berniat merebut kembali tanah kelahiran mereka. Berkat semangat yang dikobarkan oleh Bung Tomo tersebutlah yang kemudian membuat warga Surabaya berani habis-habisan membela tanah airnya.

Tidak heran apabila kemudian tanggal 10 November yang juga diperingati sebagai Hari Pahlawan Nasional lekat sekali dengan citra perjuangan dari Bung Tomo. Ketika membicarakan Hari Pahlawan Nasional maka semua orang juga akan mengingat sejarah pidato Bung Tomo yang sangat membakar bagi setiap pihak. Bukan hanya di waktu itu bahkan efeknya masih bisa dirasakan hingga sekarang ini.

Kata-Kata Bung Tomo

Isi pidato milik Bung Tomo tentunya menegaskan bahwa kemampuan beliau dalam menyusun kata-kata yang tidak sembarangan. Karena beliau bukan hanya menyusun kata-kata yang indah tapi juga di dalam kata-kata tersebut telah disuntikkan banyak sekali semangat nasionalisme.

Kemampuan di atas rata-rata Bung Tomo dalam berkata-kata bukan hanya dibuktikan melalui pidatonya. Lantas melalui apa lagi? Pastinya banyak yang kemudian melontarkan pertanyaan tersebut. Ternyata ada satu susunan kata-kata beliau yang masih terkenal hingga sekarang ini.

Kata-kata tersebut adalah: “Merdeka atau Mati!”. Sebuah susunan kata-kata yang pastinya terasa sekali genjotan semangat untuk berjuang pada tanah kelahirannya setelah mendengarkannya. Kalimat tersebutlah yang kemudian membuat nama Bung Tomo sebagai pejuang makin dikenal luas. Bahkan sampai sekarang ini, kata-kata tersebut masih sering didengar ketika hari Kemerdekaan sedang dirayakan. Menegaskan bahwa buah pikir dari Bung Tomo masih hidup tanpa adanya batasan waktu.

Makam Bung Tomo

Jasanya sebagai pahlawan nasional tentu membuat Bung Tomo mendapatkan penghormatan dari banyak pihak. Sesuatu yang kemudian membuat banyak orang berpikir bahwa Bung Tomo ini dimakamkan di Taman Makam Pahlawan di Ngagel Rejo Surabaya.

Sebuah lokasi pemakaman yang tentunya wajar diperuntukan bagi mereka yang berjasa pada bangsa dan negara dengan hadir sebagai sosok pahlawan. Namun ternyata salah, karena beliau dimakamkan di sana. Fakta tersebut pastinya menimbulkan pertanyaan: lantas beliau dimakamkan di mana? Mungkin sebagian orang akan sedikit terkejut dengan fakta ini.

Fakta tersebut adalah ternyata mendiang Bung Tomo dimakamkan bukan di Taman Makam Pahlawan tapi di Taman Pemakaman Umum Islam. Bagi kamu yang belum tahu, TPU Islam ini sendiri berada tepat di seberang Taman Makam Pahlawan Surabaya.

Hal tersebutlah yang kemudian membuat banyak orang awam seringkali keliru ketika ingin menyekar ke makam beliau. Soalnya kebanyakan orang mendatangi Taman Makam Pahlawan di Surabaya. Tentunya makam beliau tidak akan ditemukan di sana karena memang bukan dimakamkan di sana tapi di TPU Islam.

Bahkan pada tahun 2016 yang lalu, istri beliau yang meninggal kemudian dimakamkan di tempat yang sama. Keputusan tersebut tentunya setelah keluarga mendiang melakukan musyawarah dan kesepakatan bersama. Menegaskan bahwa kesetiaan kedua sejoli tersebut benar-benar dibawa sampai ke akhir hayat.

Dengan semua penjelasan di atas pastinya membuat Anda lebih paham dan lebih mengenali sosok Bung Tomo. Sosok pahlawan nasional yang erat ciri khasnya dengan orasi pidatonya yang sangat membakar nasionalisme siapapun yang mendengarkannya. Tidak heran, apabila nama beliau akan tetap dikenang dan tidak akan pernah bisa tergantikan.


0 Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *